"Akhirnya kami menemukan kalian!" teriak salah satu murid Sekte Akar Kehidupan dengan nada penuh kemarahan, suaranya menggetarkan udara.

"Jadi benar, kalianlah yang sudah menculik begitu banyak penduduk kerajaan Rihua. Serahkan diri kalian sekarang juga dan katakan kemana mereka dibawa!" bentak murid lainnya, sorot matanya tajam menuding para penjahat.

Kelima murid itu maju serentak. Aura mereka meledak, menekan udara hingga terasa berat dan mencekik. Daun-daun kering beterbangan, terhempas pusaran energi yang berputar liar di sekeliling mereka. Para pedagang, keluarga, serta para pelayan berdesakan ke belakang, napas mereka terengah-engah karena tak sanggup menahan tekanan tak langsung dari kekuatan para murid itu.

Pimpinan pengawal yang masih memegangi dadanya terhuyung, darah menetes dari bibirnya. Namun sorot matanya memancarkan secercah harapan. Ia sudah mengetahui penyamaran mereka sejak awal dan sengaja bekerja sama agar mereka bisa menyusup ke dalam rombongan. Kini, melihat para murid sekte maju, ia yakin rombongan ini akan terselamatkan.

Kelima murid Sekte Akar Kehidupan memang telah bekerja sama dengan pihak kerajaan. Kasus hilangnya banyak penduduk, terutama dari rombongan yang melakukan perjalanan, membuat mereka memutuskan untuk menyamar. Begitu mendengar kabar tentang rombongan pedagang besar yang akan melintas, mereka langsung menyusup, berharap menemukan jejak para pelaku.

Dan hari ini, penyamaran itu membuahkan hasil. Mereka berhasil menemukan para pelaku yang selama ini berhubungan dengan kasus penculikan misterius tersebut.

"Hahaha..." tawa kasar pecah dari mulut pimpinan perampok. Ia menatap dengan tatapan penuh penghinaan pada lima sosok yang berdiri di hadapannya. "Tiga Master Foundation dan dua Grandmaster... jadi ini yang dikirim untuk menghentikan kami?"

Ia menyerngai, matanya berkilat penuh kesombongan. "Akhirnya kalian keluar juga. Apa kalian mengira kami tidak tahu tentang penyamaran kalian di dalam rombongan ini? Menangkap kalian akan menjadi hadiah tambahan yang membuat pimpinan kami gembira."

"Sombong sekali, kami berlima sudah lebih dari cukup untuk menangkap kalian," suara salah satu murid Sekte Akar Kehidupan bergema lantang. Dialah murid senior yang ditunjuk untuk memimpin rombongan, tatapannya penuh keyakinan.

Ia melangkah maju dengan pedang terhunus. Kilau pedang memantulkan cahaya samar di bawah rimbun pepohonan. Aura dahsyat meledak darinya, tekanan ranah Grandmaster Bumi menyapu udara, membuat tanah di bawahnya retak-retak halus.

Pimpinan perampok hanya tertawa kasar. Dengan gerakan santai ia melepaskan auranya. "Grandmaster Bumi? Kebetulan sekali." Energi gelap yang pekat berputar liar mengelilinginya, menekan balik udara dengan kekuatan yang sama.

Murid senior itu mengerutkan kening, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Pantas saja tidak ada yang bisa menemukan atau menangkap mereka... ternyata kekuatan mereka berada di ranah tinggi. Penculikan yang mereka lakukan jelas bukan hal sederhana," batinnya waspada.

"Senior, aku akan membantumu!" seru murid lain. Ia melompat ke depan, tombaknya bergetar menyala, menunjukkan kekuatannya di ranah Grandmaster Fana. Kini, dua Grandmaster dari pihak sekte berdiri berhadapan dengan satu Grandmaster dari pihak perampok, seolah keseimbangan mulai condong.

Sementara itu, tiga murid lain tetap bersiaga, mata mereka tajam mengawasi gerakan kawanan perampok. Mereka menunggu tanda, siap menerjang bila ada gerakan mencurigakan.

Namun ketegangan itu pecah saat suara serak terdengar dari arah batu besar. "Mundurlah. Kita tidak bisa berlama-lama di sini, jika ketua tahu kita membuang waktu, hukumannya akan jauh lebih menyakitkan." Pria tua yang sejak awal hanya menonton sambil menenggak anggur dari kendi kini berdiri perlahan.

Mata para murid langsung menajam. Sejak pertama kali mereka sudah curiga, aura pria itu terlalu tenang. Yang membuat mereka ngeri, tak seorang pun bisa merasakan tingkat kekuatannya.

Tiba-tiba, sosok pria tua itu menghilang.

BUGH! BUGH!

DUARR!

Dalam sekejap, kedua Grandmaster Sekte Akar Kehidupan terlempar keras menghantam tanah. Tubuh mereka terguncang hebat, darah segar muncrat dari mulut. Dan di depan mereka, pria tua itu sudah berdiri, tangannya masih terangkat seolah baru saja selesai menghajar. Gerakannya begitu cepat hingga tak seorang pun sempat melihat bagaimana ia menyerang.

Kedua murid Grandmaster Sekte Akar Kehidupan terhuyung bangkit, tubuh mereka bergetar hebat, wajah penuh darah. Mata mereka membelalak tak percaya.

"Tidak mungkin... kami... kami dikalahkan hanya dengan satu serangan...," desis murid senior dengan napas tersengal.

"Tidak... bahkan aku tidak sempat melihat pergerakannya... bagaimana bisa ada kekuatan seperti ini..." gumam murid satunya, tangannya bergetar memegangi pedang yang hampir terlepas.

Pria tua itu terkekeh keras, suaranya bergema di hutan. "Hahaha! Kalian lihat sendiri, bukan? Ketua kita memang luar biasa. Mereka yang berasal dari murid sekte hebat pun tidak ada artinya di hadapanku." dia lalu memandang ke arah komplotannya, "Jika kalian terus mengabdi, melayani ketua dengan baik, kalian juga akan merasakan kekuatan seperti milikku."

Tatapannya penuh kesombongan, sorot matanya dingin. Dulu ia hanyalah salah satu anggota biasa keluarga Baihuan dengan bakat yang rendah, Meski dibantu dengan teknik dan sumber daya yang berlimpah, dia baru bisa mencapai ranah Grandmaster di usia tua. Namun setelah pimpinan keluarga Baihuan di pegang oleh leluhur Monrest, melalui formasi pengorbanan yang mengerikan dengan mengorbankan orang-orang yang mereka tangkap, Ketua Monrest memberinya kekuatan tambahan. Kini, tubuhnya dipenuhi energi kelam, kekuatannya melesat ke tingkat yang setara dengan seorang Immortal tahap pertengahan.

Sorak sorai meledak dari para perampok yang melihat adegan itu. Mereka bersorak, menertawakan dengan penuh kebanggaan, wajah mereka dipenuhi semangat baru.

Sebaliknya, rombongan pedagang menjerit ketakutan. Beberapa wanita berpelukan erat sambil menangis, anak-anak mereka bersembunyi di balik tubuh para pelayan yang gemetar. Wajah para pelayan memucat, beberapa hampir pingsan karena tekanan aura.

Tiga murid lain dari Sekte Akar Kehidupan hanya bisa terpaku. Tatapan mereka dipenuhi keterkejutan, tangan mereka berkeringat dingin, dada mereka sesak menahan tekanan yang begitu menindih.

"Bagaimana ini?" kata salah satu dari mereka. Kekuatan lawan mereka jauh dari perkiraan mereka. Awalnya mereka berpikir dengan dua senior di ranah Grandmaster bersama mereka, menangkap para penculik ini menjadi hal mudah, tapi kini kedua senior mereka justru dikalahkan dengan mudah sebelum sempat mengeluarkan teknik mereka.

Pimpinan perampok melangkah maju dengan senyum lebar penuh ejekan. "Hahaha! Kalian para murid sekte hanya buang-buang tenaga. Dua Grandmaster kalian saja tumbang dalam sekejap. Jadi apa yang bisa kalian lakukan sekarang?"

Ia mengangkat pedangnya perlahan, auranya berdenyut hitam menekan seluruh medan. "Menyerahlah... atau kalian semua akan mati di tempat ini."

Udara di hutan berguncang tegang. Para murid Sekte Akar Kehidupan yang masih tersisa menatap murid senior mereka dengan wajah pucat, namun tetap menunggu instruksi.

Murid senior mengangkat tangannya, matanya tajam dan penuh tekad. "Bentuk formasi Akar Penjerat!" serunya lantang. Seketika para murid bergegas memusatkan Qi mereka, menyalurkannya ke tanah agar energi bumi menjalar dan menumbuhkan bayangan akar yang saling terjalin, hendak membentuk dinding pelindung yang kokoh.

Namun sebelum formasi itu sempat terbentuk sempurna, tubuh pria tua itu sudah muncul lagi di depan dua murid senior. Tangannya melesat, tinjunya menghantam dada keduanya dengan kekuatan brutal.

Suara benturan keras terdengar, membuat darah muncrat dari mulut kedua murid senior yang terpental keras ke tanah. Pria tua itu tertawa nyaring, auranya meledak bagai gelombang badai, menghantam murid-murid lain di sekitarnya. Tiga murid di ranah Master Foundation terlempar jauh, terbanting dan mengerang kesakitan sebelum sempat menyalurkan Qi mereka ke tanah. Formasi yang ingin mereka buat untuk mengalahkan pria tua tersebut runtuh sebelum mereka menunjukkan kekuatannya.

"Aku tidak punya waktu bermain dengan bocah-bocah sepertimu," ucapnya dengan nada meremehkan, berdiri tegak di tengah kepanikan.

"Tangkap mereka semua!" perintah pria tua itu dengan suara berat, suaranya bergema bagaikan petir yang menyalak di langit mendung.

Mendengar perintah tersebut, para perampok langsung bergerak. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketaatan penuh, apalagi sosok pria tua itu jelas memiliki posisi dan kekuatan jauh di atas pemimpin mereka. Derap langkah kaki dan tawa gembira mulai menggema, mereka berniat menangkap seluruh murid Sekte Akar Kehidupan dan menyeret mereka ke keluarga Baihuan. Mereka sudah membayangkan hadiah yang akan mereka dapatkan dari ketua Monrest.

Namun, langkah mereka mendadak terhenti. Tubuh mereka seakan membeku ketika tanah di depan rombongan tiba-tiba berguncang.

CRACK!

Suara retakan terdengar, disusul asap putih pekat yang mengepul keluar dari celah tanah. Dalam sekejap, terbentuk sebuah parit kecil yang panjang, seolah membatasi mereka dengan orang-orang yang menjadi buruan mereka, dan yang membuat mereka semakin ngeri adalah permukaan tanah itu berwarna hitam pekat seolah baru saja terbakar oleh api neraka.

"Berhenti!" Suara dingin, berat, dan penuh penindasan bergema dari sebuah arah. "Orang-orang seperti kalian memang tidak seharusnya ada di dunia ini."

Seluruh mata perampok beralih ke arah suara itu, dan seketika nafas mereka tercekat. Dari balik asap yang mengepul, perlahan terlihat sebuah sosok. Tubuhnya diselimuti tekanan aura yang sangat kuat, dan matanya menyala merah terang bagaikan dua obor raksasa di kegelapan malam. Tatapan itu menusuk, seakan menembus dinding jiwa mereka dan menyingkap semua ketakutan terdalam.

Beberapa perampok tanpa sadar mundur setapak demi setapak, wajah mereka pucat pasi. Suasana yang sebelumnya dipenuhi keberanian kini berubah menjadi lautan kegelisahan. Sosok itu tampak seperti iblis yang muncul dari jurang neraka, matanya saja sudah cukup untuk membuat nyali orang biasa tercerabut.

"Iblis..."

